Potensi Memelihara Ternak Ayam Kampung Organik

Membiarkan ayam kampung hidup liar bukanlah cara ideal untuk menjalankan bisnis peternakan secara serius terutama dalam skala besar, namun para pecinta daging dan telur ayam kampung yang fanatik juga seringkali menunjuk fakta bahwa ‘ayam kampung’ (ayam buras) yang diternakkan sudah terekspos dengan bahan-bahan kimia dari vaksin. Secara umum, semua pemilik ternak akan setuju dengan pemberian vaksin karena bermanfaat untuk menghindarkan ayam kampung dari serangan penyakit. Akan tetapi, beberapa peternak ayam kampung di Indonesia kini sudah melangkah lebih jauh dengan mengkhususkan metode ternak ayam kampung mereka pada peternakan semi intensif alias ayam kampung organik, yaitu metode peternakan ayam kampung yang sama sekali bebas dari penggunaan bahan-bahan kimiawi.

Tidak semua peternak unggas menyukai cara beternak semi intensif dengan alasan yang jelas. Pertama, metode ternak semi intensif membutuhkan komitmen dan tenaga ekstra untuk memelajari serta membuat ramuan-ramuan herbal tradisional yang diperuntukkan sebagai pengganti vaksin atau suplemen kesehatan kimiawi bagi ayam kampung. Kedua, untuk memertahankan kualitas daging ayam kampung agar mendekati ayam kampung asli, metode pemeliharaan ayam kampung yang dilakukan harus mendekati kondisi habitat alami ayam kampung seperti tempat berkeliaran yang terbuka dan luas, kandang yang selalu bersih dan luas serta mendapat cukup banyak sirkulasi dan siraman sinar matahari, serta waktu penyembelihan ayam yang tidak terlalu muda. Hal ini tentu saja membuat biaya pemeliharaan ayam kampung organik menjadi lebih mahal yang berakibat pada mahalnya kisaran harga daging dan telur ayam ini di pasaran. Harga yang mahal merupakan salah satu resiko bisnis yang dapat membuat peternak kelimpungan jika tidak memiliki strategi pemasaran yang baik.

Potensi Produk Ayam Kampung Organik di Indonesia

Jadi, apakah beternak ayam kampung secara semi intensif sebanding dengan resikonya? Melihat tren pilihan makanan serta belanja produk unggas jaman sekarang, hasil ternak ayam kampung organik ternyata cukup diminati di Indonesia walaupun harganya lumayan tinggi. Industri kuliner banyak yang menyukai daging ayam kampung organik karena memiliki serat halus serta rasa lebih gurih sehingga cocok dijadikan bahan olahan berbagai makanan sekaligus meningkatkan cita rasanya (dada ayam kampung organik terkenal lebih gurih daripada ayam ras dan ayam kampung ternak biasa). Daging serta telur ayam kampung organik juga memiliki kadar kolesterol dan lemak rendah namun dengan kandungan protein yang sangat tinggi. Plus, daging dan telur ayam kampung organik jelas tidak mengandung jejak-jejak zat berbahaya serta bakteri E. Coli dan Salmonella sehingga lebih aman dikonsumsi. Jika didukung dengan proses pemasaran yang baik, peternak ayam kampung semi intensif dapat membantu meningkatkan tren konsumsi daging ayam kampung jenis ini sehingga bisa memperluas potensi penjualan.